Rabu, 01 April 2020

PANITIA PERAYAAN NATAL DAN PENYEMPUTAN TAHUN BARU 2020,KOMUNITAS ANAK MBARLIMA WALAK

KOMUNITAS ANAK MBARLIMA WALAK"

                           
          Oleh: Watikam wene .news
Thema:hiduplah sahabat bagia semua orang.                          (Mazmur. 133,1-3
Sub,Thema:persahabatan merupakan bukti iman seorang muda mengatakan selamat merayakan natal & selamat menyosong Tahun baru 2020

           Oleh, PdT. MAIKEL. KOMBA ST. h

           NATAL itu INDAH
           NATAL itu KASIH
           NATAL itu DAMAI SEJATRAH
           NATAL itu SEDERHANA 
           NATAL itu  KEBERSAMAAN Kita Dengan                Tuhan.
        NATAL itu  KELAYAKAN Hati menyembutnya.
             Karena NATAL Tidak akan berhenti Tanpa               Kasi  Tuhan.AMIN

sbr. https://watikamwene.blogspot.com/

https://watikamwene.blogspot.com/?m=1

GENRASI "PUNGK" YANG TERBUANG





                                 Foto ilustrasi
Oleh watikam wene. News
Pada masa kini dengan adanya globalisasi, banyak sekali kebudayaan yang masuk ke Indonesia, sehingga tidak dipungkiri lagi muncul banyak sekali kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok tersebut muncul dikarenakan adanya persamaan tujuan atau senasib dari masing-masing individu maka muncullah kelompok-kelompok sosial di dalam masyarakat. Kelompok-kelompok sosial yang dibentuk oleh kelompok anak muda yang pada mulanya hanya dari beberapa orang saja kemudian mulai berkembang menjadi suatu komunitas karena mereka merasa mempunyai satu tujuan dan ideologi yang sama.
Salah satu dari kelompok tersebut yang akan kita bahas adalah kelompok “Punk”, yang terlintas dalam benak kita bagaimana kelompok tersebut yaitu dengan dandanan ‘liar’ dan rambut dicat dengan potongan ke atas deng…an anting-anting. Mereka biasa berkumpul di beberapa titik keramaian pusat kota dan memiliki gaya dengan ciri khas sendiri. “Punk” hanya aliran tetapi jiwa dan kepribadian pengikutnya, akan kembali lagi ke masing-masing individu. Motto dari anak-anak “Punk” itu tersebut, Equality (persamaan hak) itulah yang membuat banyak remaja tertarik bergabung didalamnya. “Punk” sendiri lahir karena adanya persamaan terhadap jenis aliran musik “Punk” dan adanya gejala perasaan yang tidak puas dalam diri masing-masing sehingga mereka mengubah gaya hidup mereka dengan gaya hidup “Punk”..
“Punk” yang berkembang di Indonesia lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan. Dengan gaya hidup yang anarkis yang membuat mereka merasa mendapat kebebasan. Namun kenyataannya gaya hidup “Punk” ternyata membuat masyarakat resah dan sebagian lagi menganggap dari gaya hidup mereka yang mengarah ke barat-baratan. Sebenarnya, “Punk” juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan ”kita dapat melakukan sendiri”
Jumlah anak “Punk” di Indonesia memang tidak banyak, tapi ketika mereka turun ke jalanan, setiap mata tertarik untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat di sekelilingnya yang menghiasi pergelangan tangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana mereka. Begitu juga dengan celana jeans super ketat yang dipadukan dengan baju lusuh, membuat image yang buruk terhadap anak “Punk” yang anti sosial.
Anak “Punk”, mereka kebanyakan di dalam masyarakat biasanya dianggap sebagai sampah masyarakat Tetapi yang sebenarnya, mereka sama dengan anak-anak lain yang ingin mencari kebebasan. Dengan gaya busana yang khas, simbol-simbol, dan tatacara hidup yang dicuri dari kelompok-kelompok kebudayaan lain yang lebih mapan, merupakan upaya membangun identitas berdasarkan simbol-simbol.
Gaya “Punk” merupakan hasil dari kebudayaan negara barat yang ternyata telah diterima dan diterapkan dalam kehidupan oleh sebagian anak-anak remaja di Indonesia, dan telah menyebabkan budaya nenek moyang terkikis dengan nilai-nilai yang negatif. Gaya hidup “Punk” mempunyai sisi negatif dari masyarakat karena tampilan anak “Punk” yang cenderung ‘menyeramkan’ seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, bikin onar, dan bertindak sesuai keinginannya sendiri mengakibatkan pandangan masyarakat akan anak “Punk” adalah perusak, karena mereka bergaya mempunyai gaya yang aneh dan seringnya berkumpul di malam hari menimbulkan dugaan bahwa mereka mungkin juga suka mabuk-mabukan, sex bebas dan pengguna narkoba.





  Awalnya pembentukan komunitas “Punk” tersebut terdapat prinsip dan aturan yang dibuat dan tidak ada satu orangpun yang menjadi pemimpin karena prinsip mereka adalah kebersamaan atau persamaan hak diantara anggotanya. Dengan kata lain, “Punk” berusaha menyamakan status yang ada sehingga tidak ada yang bisa mengekang mereka. Sebenarnya anak “Punk” adalah bebas tetapi bertanggung jawab. Artinya mereka juga berani bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang telah dilakukannya. Karena aliran dan gaya hidup yang dijalani para “Punkers” memang sangat aneh, maka pandangan miring dari masyarakat selalu ditujukan pada mereka. Padahal banyak diantara “Punkers” banyak yang mempunyai kepedulian sosial yang sangat tinggi.
Komunitas anak “Punk” mempunyai aturan sendiri yang menegaskan untuk tidak terlibat tawuran, tidak saja dalam segi musikalitas saja, tetapi juga pada aspek kehidupan lainnya. Dan juga komunitas anak “Punk” mempunyai landasan etika ”kita dapat melakukan sendiri”, beberapa komunitas “Punk” di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Komunitas tersebut membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian berkembang menjadi semacam toko kecil yang disebut distro. Tak hanya CD dan kaset, mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Produk yang dijual seluruhnya terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Kemudian hasil yang didapatkan dari penjualan tersebut, sebagian dipergunakan untuk membantu dalam bidang sosial, seperti membantu anak-anak panti asuhan meskipun mereka tidak mempunyai struktur organisasi yang jelas. Komunitas “Punk” yang lain yaitu distro merupakan implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja barang bermerk luar negeri.
Mari kaum muda kita rapatkan barisan tuk melawan kapitalisme.otoriter.pembodohan.penindasan.
Dan sistem-simtem yg merugikan kaum umat manusia d negri ini


PUISI BERKAWAN DENGAN ANAK PEREMPUAN DI JALAN



                                       Foto ilustrasi 

Oleh,watikam wene.news

Berangkat dari pengalaman melihat realitas, mendengar dari para pakar dan membaca dari pemberitaan media bahwa masalah yang dihadapi anak jalanan sangat kompleks dan rumit. Dari latar belakang mereka ke jalan, situasi yang penuh ancaman kehidupan jalanan, serta berbagai bentuk depresi sosial ekonomi, kultural dan psikologis. Semua itu saling terkait membangun pola perilaku dan kematangan emosi bagi anak- anak. Masyarakat umumnya melihat anak jalanan adalah predikat dengan sejumlah stigma sosial yang sudah menempatkan mereka pada posisi yang tersudut. Bagi anak jalanan perempuan, disamping ia menerima sederet karakter yang diberikan masyarakat juga tidak bisa melepaskan diri dari statusnya sebagai perempuan. Sebagai gadis jalanan dengan kodratnya sebagai perempuan (menstruasi, hamil dan melahirkan), ia sangat rentan dengan tindak kekerasan, perkosaan dan pelecehan seksual.


Abstraksi ini tidak akan mengupas secara teoritis keberadaan anak jalanan perempuan. Tetapi adalah awal bercerita tentang pergaulan dengan anak-anak jalanan perempuan di Kodya Yogyakarta. Barangkali terlalu jauh kalau diberi label penanganan terhadap anak jalanan perempuan, oleh karena itu bahasa yang kami gunakan adalah berkawan dengan “anak jalan perempuan .Untuk mengungkap pengalaman kami dengan gadis-gadis jalanan, sangat sedikit yang dapat kami utarakan. Hal ini karena rentang waktu bergaul dengan mereka yang relatif masih terlalu dini bila dibandingkan dengan pergaulan yang dilakukan oleh Girli dengan anak jalanan laki-laki. Bisa dikatakan bahwa ini adalah permulaan untuk menapaki proses bersama dengan gadis-gadis jalanan yang sering mendapat predikat “Rendan (kere dandan).Sebagai langkah permulaan untuk berkawan lebih dekat dengan mereka adalah menjalin persahabatan dan pertemanan sebagaimana umumnya terjadi. Adalah hal yang wajar bila kemudian dalam perkawanan, masing- masing terlibat dalam perbincangan diseputar kehidupan mereka, latar belakang mereka, dan perisiwa-peristiwa yang mereka alami. Hingga akhirnya dapat kami ketahui mengapa mereka ke jalanan. Pada umumnya mereka berangkat dari ketidak harmonisan dalam keluarga, percekcokan orangtua, salah satu dari orangtua meninggal sehingga harus menikah lagi, perceraian, situasi kemiskinan, anak kesulitan menyesuaikan diri. Beberapa anak berangkat dari kekecewaan hubungan lawan jenis yang terlanjur. Juga karena pergaulan dengan anak jalanan yang akhirnya membawa mereka ke kehidupan jalanan.Bagaimana kehidupan mereka di jalan?Mereka menganggap jalanan adalah komunitas mereka, bagian dari kehidupan mereka. Toh demikian, tidak dapat dipastikan juga dimana mereka selalu berada, mereka sering berpindah-pindah tempat. Ada beberapa tempat sebagai alternatif mereka mangkal. Toilet umum didepan Hotel Mutiara, Pom bensin jalan Mangkubumi, Taman kawasan Shopping, alun-alun utara dan Purawisata. Beberapa diantara mereka sering mangkal di Pantai Samas.Pada umumnya mereka dipelihara oleh orang laki-laki atau anak- laki- laki yang hidup disekitar tempat mereka mangkal. Biasanya laki-laki akan membayar makan dan minum gadis-gadis jalanan. Bahkan beberapa dari mereka menawarkan untuk membiayai sekolah bila mereka kembali ke sekolah. Hubungan antara gadis-gadis jalanan dengan laki-laki yang memberi mereka makan, atau yang berstatus pacar tidak menutup kemungkinan terjadinya hubungan seksual. Seks menawarkan dua hal bagi mereka; kenikmatan hubungan dan pemeliharaan.Sebelum ada open house gadis jalanan siang hari mereka berbaring tidur-tiduran diatas peti di pasar Beringharjo lantai II, menyanyi dan bergitar bersama. Kadang-kadang main kerumah temannya atau pergi ke tempat lain diluar pasar. Sebagian mereka bergerombol dengan anak laki-laki di taman Jalan Senopati. Ketika senja hari minum alkohol, ngepil, kalau mereka strees gadis-gadis menggores-gores tangan mereka dengan guilette. Karena pada sore hari pasar tutup, anak-anak biasanya pergi ketempat lain, ke Purawisata atau ke alun-alun selatan. Sebagian dari mereka tidur di "kotakan shopping". Setelah dibuka "Rumah terbuka" pada pagi hari sebagian dari mereka datang ke Open House untuk tidur, mencuci atau sekedar singgah sebelum pergi ke suatu tempat yang lain.Dari gambaran singkat mengenai tingkah laku, pola pergaulan di jalanan, pergaulan dengan lawan jenis tersebut, kami mencoba melihat masalah-masalah yang sering dihadapi oleh anak jalanan perempuan adalah:Hal-hal yang berkaitan dengan fungsi reproduksinya; bahaya kehamilan, aborsi, atau terjangkitnya penyakit kelamin. Kekurangan uang, kebanyakan mereka tidak memiliki pekerjaan seperti anak jalanan laki- laki. Kesulitan untuk kembali ke kehidupan bersama karena masa lampaunya dijalanan, mereka dianggap sebagai orang yang berdosa dan masih sukar untuk diterima. Bahaya penggunaan alkohol dan pil yang berlebihan. Melukai diri sendiri, ketika mereka stress. Diskriminasi dan penolakan dari kehidupan masyarakat. Merespon permasalahan tersebut diatas, bukanlah kerja mudah yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Karena bukan saja melibatkan anak jalanan sendiri tetapi melibatkan keterbukaan masyarakat pada umumnya. Biasanya ketika mendengar kata "anak jalanan" masyarakat pada umumnya sudah membawa seperangkat asumsi yang negatif dengan mereka. Sehingga untuk membuka rumah terbuka sebagai tempat singgah bagi gadis-gadis jalanan harus berhadapan dengan sejumlah alasan untuk menolak kehadiran gadis-gadis jalanan di tengah-tengah komunitas mereka. Bila demikian, kemudian dimana mereka bisa diterima? Karena jalanan juga sarat dengan segudang kekerasan. garukan dari pihak keamanan dengan alasan stabilitas ataupun kebersihan kota ternyata tidak menyelesaikan. Tipuan-tipuan yang mengatas namakan pihak keamanan memaksa mereka menerima pukulan-pukulan atau penganiayaan. Perkosaan dan pelecehan seksual juga sering dialami gadis-gadis jalanan. Apa yang dilakukan oleh Inasswasti dengan gadis-gadis jalanan sebatas mencoba membuka "rumah terbuka" sebagai alternatif rumah singgah bagi mereka. Dan mencoba membangun, memberi makna perkawanan, persahabatan dengan gadis-gadis jalanan dalam rangka membuka katub-katub yang selama ini tersumbat.Category: ,

NATAL SEKALIGUS PENYEMPUTAN THN BARU 2020 .KOMUNITAS ANAK MBARLIMA WALAK ANGKATAN KE-I

          TEMPAT, JLN : KALIMERA, KOSILI, SILIBA. 

                                       foto 
kebersamaan dalam tali persaudaraan kita adalah sebuah posisi dimana kita sangat menikmati detik, jam, dan hari bersama orang-orang disekitar kita. Dengan adanya kebersamaan, entah kenapa kita merasa sangat nyaman untuk berbagi satu sama lain. Tidak hanya itu, kebersamaan juga mampu buat kita berjuang bersama-sama untuk menyelesaikan suatu masalah dan pekerjaan dengan cepat.
Ibarat sebatang lidi yang sangat mudah dipatahkan. Namun, apabila lidi-lidi itu dikumpulkan dalam jumlah banyak maka akan sangat sulit untuk mematahkannya. Begitu pula dengan diri kita, jangan terlalu sibuk menyendiri, dan telalu yakin bahwa setiap masalah bisa diselesaikan sendiri. Ingatlah bahwa dengan kebersamaanlah semuanya akan terasa mudah. Karena kebersamaan itu indah. Jangan sampai kita malah menyesal karena menyia-nyiakan arti dan makna kebersamaan dan memilih untuk hidup yang menyedihkan.


PANITIA PERAYAAN NATAL DAN PENYEMPUTAN TAHUN BARU 2020,KOMUNITAS ANAK MBARLIMA WALAK

KOMUNITAS ANAK MBARLIMA WALAK"                                       Oleh: Watikam wene .news Thema:hiduplah sahabat bagia semu...